Tanam Serempak di Buntulia Utara, Pemkab Pohuwato Pacu Pertanian Modern dan Ketahanan Pangan

11
0

POHUWATO (barometernewsgo.com)-Pemerintah Kabupaten Pohuwato kembali mendorong modernisasi pertanian. Bupati Saipul A. Mbuinga menghadiri Gerakan Tanam Serempak (Gertam) Padi dengan metode Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) di lahan Kelompok Tani Sejahtera, Desa Buntulia Utara, Kecamatan Buntulia, Kamis, 30/07/2026.

Kegiatan ini juga dihadiri unsur Kodim 1313/Pohuwato, Kepala Dinas Pertanian Pohuwato Kamri Alwi, jajaran pemerintah kecamatan dan desa, Ketua Induk P3A Umar Etango, para penyuluh, serta kelompok tani setempat.

Rangkaian Gertam diawali dengan zoom meeting bersama Gubernur Gorontalo. Pertemuan virtual itu diikuti seluruh kepala daerah dan jajaran dinas pertanian kabupaten/kota se-Provinsi Gorontalo.

PM-AAS merupakan model pertanian modern. Metode ini mengutamakan penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) berteknologi terkini serta sistem tanam yang lebih efisien untuk mendongkrak produktivitas.

Langkah ini menjadi strategi penting Pemda dalam mentransformasi sektor pertanian. Tujuannya agar pertanian berjalan lebih modern, adaptif, efisien, dan berkelanjutan.

Di hadapan petani, Bupati Saipul menegaskan Pemkab Pohuwato terus mencari solusi atas persoalan kekurangan air. Masalah ini selama ini menjadi kendala utama di lahan sawah, khususnya di Kecamatan Buntulia dan Duhiadaa.

Menurutnya, Pemda telah melakukan audiensi ke Kementerian Pekerjaan Umum. Salah satu yang diperjuangkan adalah pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) untuk mencukupi kebutuhan air di areal persawahan.

“Sistem JIAT ini memanfaatkan sumber air tanah yang kemudian ditampung pada bak penampungan sebelum dialirkan ke areal persawahan. Program ini membutuhkan anggaran yang cukup besar, tetapi kami terus memperjuangkannya demi kepentingan petani,” ujar Bupati.

Saipul merinci, Pemkab mengusulkan enam titik JIAT. Ia berharap pembangunan bisa dimulai pada Agustus 2026.
“Kami memperjuangkan ini, dan mudah-mudahan program JIAT untuk enam titik dapat dimulai pada Agustus. Diperkirakan satu titik JIAT mampu mengairi sekitar 10 hektare lahan persawahan,” ungkapnya.

Bupati menjelaskan persoalan di kawasan Buntulia dan Duhiadaa cukup kompleks. Selain minimnya pasokan air, sedimentasi di jaringan irigasi primer dan sekunder juga menghambat distribusi air ke sawah.

Dampaknya besar. Dari total sekitar 2.200 hektare lahan persawahan di Buntulia-Duhiadaa, baru sekitar 100 hektare yang bisa ditanami. “Dari 2.200 hektare lahan persawahan Buntulia-Duhiadaa, yang baru bisa ditanam sekitar 100 hektare karena persoalan air,” jelasnya.

Pemkab Pohuwato, kata Saipul, tidak tinggal diam. Sejumlah langkah sudah dilakukan, termasuk pengangkatan sedimentasi pada saluran irigasi.
Namun ia menilai solusi tidak cukup hanya dengan normalisasi. Diperlukan penguatan sistem penyediaan air secara menyeluruh. “Semoga solusi yang kami hadirkan ini dapat menjawab keresahan masyarakat petani sawah di Buntulia dan Duhiadaa,” harapnya.

Pemerintah juga mendorong normalisasi Sungai Taluduyunu. Ini bagian dari upaya mengoptimalkan fungsi Daerah Irigasi Taluduyunu. Normalisasi dinilai penting untuk mengatasi sedimentasi di saluran primer dan sekunder, sehingga distribusi air ke sekitar 2.200 hektare lahan bisa kembali optimal.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kamri Alwi menambahkan, melalui Gertam dengan metode PM-AAS, Pemkab Pohuwato berharap percepatan modernisasi pertanian terus berjalan. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani.(BMW-3)