Refleksi HUT ke 15 Gorut, KPK dan Peran Tokoh Pendidik yang Menginspirasi

812
0

GORUT CERIA (barometernewsgo.com)-Masih dalam rangka merefleksj Hari Ulang Tahun (HUT) Gorontalo Utara ke-15, sungguh tersaji begitu banyak kisah dan kenangan yang pernah diukir dan dialami oleh para pejuang pemekaran yang tak kan pernah dilupakan dan terlupakan.

Yang menarik, dari sejuta kisah dan cerita dan dari semua pejuang KPK Gorut yang terlibat secara aktif dengan peran yang sangat menonjol menyuarakan pemekaran Gorontalo Utara, ternya sebagiannya berasal dari kalangan pendidik.

Bukan bermaksud menyepelekan atau mengabaikan peran aktif dan keterlibatan mereka yang “non pendidik”, tapi fakta sejarah menunjukkan, bahwa Ketua KPK Gorut kala itu adalah Thariq Modanggu yang tidak hanya dikenal sebagai pemuka agama dan penceramah, tapi juga aktif sebagai Dosen di IAIN Sultan Amay Gorontalo.

Dalam perkembangannya, Thariq Modanggu, juga banyak melibatkan tokoh Guru, mulai dari Guru SD, Guru SMP, Guru SMA, para Penilik pendidikan, bahkan ada juga pensiunan guru yang juga ikut terjun dan memiliki andil dalam proses perjuangan pembentukan Gorontalo Utara.

Diantara nama tokoh Guru atau pendidik yang terlibat aktif dalam gerakan pembentukan Gorontalo Utara, sebutlah misalnya, Irwan Abudi Usman yang kini menjabat Kepala Dinas Pendidikan Gorut, kemudian ada nama Abdul Wahab Paudi yang pernah menjabat Ketua PGRI Kab. Goruntalo Utara yang kini menjabat Kepala Dinas PMDes Kab. Gorut. Ada juga nama Rison Adolo yang kala perjuangan pembentukan Kabupaten Gorut saat itu sebagai Guru di SDN Ponelo, demikian juga nama Tambrin Sirajudin dan almarhum Hartono Rahim.

6 tokoh pendidik ini boleh disebut, menjadi candradimukanya KPK Gorut yang memiliki peran strategis, tidak hanya melahirkan ide, gagasan dan seabrek kiat dan strategis dalam memperjuangkan terbentuknya Gorontalo Utara, tapi lebih dari itu, mereka tampil menjadi konseptor, perancang dan perumus,melakukan kajian dan analisis yang berbasis akademik sekaligus menjadi motor penggerak yang mampu mendobrak semangat, menjadi pelecut motivasi dan merangsang gairah masyarakat untuk berpartisipasi dalam setiap gerakan mendukung kelancaran proses perjuangan pemekaran.

Itulah sisi kelebihan Guru yang tidak semuanya dimiliki oleh profesi lain. Dengan kata lain, guru bisa melakoni profesi apa saja, tapi tidak semua profesi mampu tampil sebagai guru.

Yang lebih menarik lagi adalah, ketika Gorontalo Utara resmi ditetapkan menjadi Daerah Otonom Baru, sebagai salah satu Kabupaten di Provinsi Gorontalo, satu-satunya profesi yang siap menempati jabatan struktural di Pemerintahan Daerah adalah Guru atau pendidik, baik siap dari segi kapasitas keilmuan maupun siap dalam aspek kepangkatan.

Tidak heran, jika awal-awal keberadaannya sebagai Daerah Otonom baru, banyak guru yang menempati jabatan-jabatan strategis di pemerintahan, mulai dari Kepala Dinas, Kepala Bidang, Kepala Seksi, Sekretaris Kecamatan bahkan Camat sekalipun.

Sementara jabatan birokrat lainnya sebagian besar direkrut dari daerah lain, terutama putra-putri Goruntalo Utara yang sudah lama mengabdi di daerah lain.

Sekali lagi, tulisan ini bukan untuk menyepelekan atau mengabaikan peran non pendidik, tapi sebagai sebuah refleksi, bahwa sektor pendidikan memegang peran strategis dan sangat menentukan kemajuan suatu daerah.

Dengan asumsi lain, bahwa pendidikan merupakan salah satu pilar peradaban sebuah bangsa yang tidak bisa diabaikan.

Masyarakat Kab. Gorontalo Utara dalam konteks ini patut berbangga sekaligus optimis, bahwa Gorut ke depan, diyakini akan mampu meraih lompatan-lompatan kemajuan yang signifikan. Salah satu alasan mendasar dari optimisme ini adalah, sebagian besar dari mereka yang membidani lahirnya Gorontalo Utara yang nota bene berlatar belakang guru kini memegang peran penting di pemerintahan, yakni Thariq Modanggu sebagai Bupati, Abdul Wahab Paudi dan Irwan Usman kini keduanya menjabat Kepala Dinas.

Menaruh optimisme kepemimpinan dari seorang guru atau pendidik, tidaklah berlebihan.

Paling tidak hal itu merujuk pada sejarah kemajuan Jepang yang mampu bangkit karena guru dan pendidikan.

Sejarah mencatat, saat bom atom tentara sekutu meluluhlantakan dan membumihanguskan Kota Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945, Kaisar Jepang kala itu justru tidak gentar dan tetap optimis dengan menanyakan “Berapa Guru yang tersisa” karena di tangan merekalah Jepang akan segera bangkit dan berjaya.

Sungguh pengalaman Jepang yang mampu bangkit dan membangun peradabannya di tengah puing-puing kehancuran dengan mengandalkan guru menjadi ibrah yang sangat berharga bagi masyarakat di wilayah ini. Pengalaman adalah guru terbaik dan sebaik-baik guru adalah mereka yang mampu menginspirasi dan menjadi teladan. Dirgahayu Gorontalo Utara, Selamat menyambut Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2022. (Cobra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here