Syarif Mbuinga, Pemimpin yang Selalu Dirindukan

209
0

Oleh : Ismail Abas, SHI
(Loyalis Pasisa)

HARI ini 17 Februari 2021, periode kedua kepemimpinan Syarif Mbuinga sebagai Bupati Pohuwato telah berakhir. Untuk sementara waktu, ia digantikan oleh Pelaksana Harian (Plh) Bupati, karena masih menunggu pelantikan Bupati definitif hasil pemilihan Kepala Daerah Desember 2020 lalu.

Dari realitas dan fakta yang menyeruak di tengah masyarakat, jika saja, tidak ada ketentuan konstitusi yang membatasi masa jabatan Bupati hanya 2 periode, hampir dapat dipastikan, Syarif Mbuinga akan tetap dipercaya memimpin Kab. Pohuwato untuk periode ketiga. Asumsi ini tidak berlebihan, mengingat performance Syarif Mbuinga selama menjabat Bupati Pouwato, tidak hanya dinilai memiliki kinerja kepemimpinan yang memuaskan ditinjau dari berbaga indikator kemajuan selama masa kepemimpinannya bersama Wakil Bupati Amin Haras, tapi juga ada sisi lain yang menarik ditinjau dari berbagai dimensi kepemimpinan.

Performance kepemimpinan Syarif Mbuinga, baik semasa ia masih menjabat Ketua DPRD Kab. Pohuwato dan sejak tahun 20110 menjabat Bupati Pohuwato, memang menjadi bahan pembicaraan di tengah masyarakat. Bahkan boleh disebut, model dan gaya kepemimpinannya, seakan dijadikan sebagai sebuah patron dan standar ideal kepemimpinan yang relevan dengan tuntutan dan tuntunan yang sejatinya menggejala di daerah yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama, adat dan budaya.

Kepemimpinannya yang santun, sejuk dan bersahabat dengan masyarakat kecil, performance kepribadiannya yang mampu menyatukan berbagai elemen yang berbeda, kepiawiannya dalam berpolitik yang mampu menghadirkan kompromi politik yang kondusif serta roda kepemimpinan dan pemerintahannya yang berputar secara harmoni dan senantiasa bertumpu pada kepentingan dan masa depan Pohuwato, semuanya itu menjadi sebuah patron kepemimpinan yang sungguh mengesankan.

Jika di daerah lain di seantero Nusantara, terdapat berbagai fenomena yang meresahkan, salah satunya, ada Bupati yang hanya dalam waktu singkat “pecah kongsi” dengan Wakil Bupatinya, jika di daerah lain, fenomena aksi protes dan unjuk rasa warga terhadap kebijakan Bupati yang tidak sejalan dengan tuntutan dan aspirasi masyarakat, bahkan ada aksi protes aparatur terhadap sikap dan tindakan pemimpinannya, maka di Kab. Pohuwato selama 10 tahun lamanya, semua fenomena itu tidaklah menggejala.

Justru sebaliknya, di Kabupaten Pohuwato, antara Bupati dan Wakil Bupati tercipta harmoni kepemimpinan yang saling pengertian dan saling memahami, sehingga keduanya mampu menempatkan diri pada kedudukan dan fungsi tugas masing-masing. Tidak ada prahara, apalagi manuver tambahan. Syarif Mbuinga sebagai Bupati mampu menempatkan dirinya memancarkan leadershipnya secara ideal, sebaliknya Wakil Bupati Amin Haras sebagai birokrat senior mampu menelaah tugas pokoknya sebagai Wakil Bupati yang harus membantu tugas-tugas Bupati untuk rakyatnya. Yang jelas, dalam 10 tahun keduanya memimpin Kabupaten Pohuwato, tidak ada manuver politik yang menggejala, apalagi gerakan tambahan yang dapat memancing ketersinggungan.

Dengan kata lain, bahwa selama 10 tahun kolaborasi keduanya di daerah ini, Syarif Mbuinga sebagai Bupati sangat paham siapa pemimpin yang sebenarnya dan Wakil Bupatinya Amin Haras, juga paham bahwa “Hanya ada satu Matahari” di Pohuwato, tidak boleh lebih.

Komitmen yang selalu berpegang teguh pada konstitusi dan ketentuan tertulis dalam kaidah berbangsa dan bernegara di satu sisi, serta semangat menelaah dan mewarisi nilai-nilai kepemimpinan yang menjunjung etika sungguh menggejala dalam era kepemimpinan Syarif Mbuinga dan Amin Haras dalam kurun satu dasawarsa di Kab. Pohuwato.

Hal itu menunjukkan bahwa Syarif Mbuinga dan Amin Haras seakan menyuguhkan sebuah nilai kepemimpinan yang ideal dan semakin mengukuhkan diri, bahwa keduanya memang sejatinya menjadi Madrasah bagi generasi pemimpin di masa mendatang, yang mengajarkan tentang bagaimana seorang pemimpin bersikap, bertindak dan mengendalikan diri untuk tampil secara wajar dan tidak berlebihan, mampu menempatkan diri secara proporsional demi rakyat dan masa depan daerah yang dipimpinnya.

Dalam konteks ini boleh disebut, Syarif Mbuinga dan Amin Haras adalah 2 sosok pemimpin pembelajar dan hendak membelajarkan tentang hakekat kepemimpinan. Juga, keduanya hendak mengajarkan, bahwa meski Bupati dan Wakil Bupati adalah jabatan politik, namun bukan berarti, bebas bermain-main dalam politik, apalagi mendekosntruksi bangunan politik hanya untuk kepentingan politik sesaat.

Yang jelas, begitu banyak dimensi kepemimpinan Syarif Mbuinga dan Amin Haras dalam 10 tahun menjabat Bupati dan Wakil Bupati Pohuwato yang tidak hanya mengesankan, tapi juga menyuguhkan seberkas nilai yang sungguh berharga untuk ditelaah dan dimaknai.

Tidaklah mengherankan, jika ada seberkas keyakinan bahwa sosok Syarif Mbuinga akan terus dirindukan dan didambakan kehadirannya kembali ke dalam percaturan politik, tidak hanya dalam ruang lingkup di Kab. Pohuwato, tapi juga dalam konteks dan ruang lingkup yang lebih luas lagi di Provinsi Gorontalo.

Dirindukan dan didambakan, bukan karena dalam manifestasi kepemimpinan yang sudah terbukti, mampu membawa Pohuwato progresif dalam aspek pembangunan semata, tapi juga proporsional dalam sikap dan tindakan yang mencerminkan diri sebagai politisi yang santun dan menyejukkan. Terima kasih Syarif Mbuinga, terima kasih atas dedikasi dan pengabdiannya serta terima kasih atas pembelajarannya selama ini. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here