DEMOKRASI; PESTA KEHILANGAN KEMBANG API

269
0

Oleh : Zulkarnain Musada – Anak Pesisir Gorontalo Utara.

Tak terasa 09 Desember 2020, tepatnya 45 hari lagi menghampiri. Kita kembali merayakan pesta rakyat yang bernama “Pilkada”. Hari penuh keakraban. Disambut riang gembira sambil tak henti memanjatkan harapan bahwa proses perjuangan yang dilakoni di terima semesta alam dan membawa kebaikan berujung kemenangan rakyat. Kita baik sebagai pribadi, bagian dari umat, atau warga bangsa semakin naik kualitasnya.

Walaupun suasana menyambut Pilkada tak seperti sebelumnya, namun semarak Pilkada itu tetap menjadi ruh dalam kualitas penyambutan demokrasi rakyat yang dibaluti persaudaraan dan persatuan. Suara-suara rakyat bersorak di TPS seperti takbir menyebut keagungan Tuhan, pilihan hati rakyat seperti tasbih asma-Nya disucikan dan keyakinan kedamaian antar warga seperti tahmid memuja nama-Nya tak henti disuarakan. Allahuakbar walillahil hamd.

Kita biasanya melakukan rentetan Pilkada dengan acara kampanye (dialogis dan monologis) sambil bersorak dengan kerumunan massa, berkeliling dari desa ke desa dengan pawai kenderaan yang bergelimang massa, menyambangi lorong-lorong rumah warga, pawai dijalan raya atau berjoget di posko-posko pemenangan. Kini semua itu wajib dilakukan dengan memakai masker sambil mematuhi social distancing yang kini menjadikan kita lebih was-was atas bencana non alam ini.

Doa-doa dan harapan yang bertautan dengan lantunan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” juga “musik para kandidat” Pilkada yang bertalu-talu menjadi irama yang menggetarkan sekaligus menghunjamkan pertanyaan paling dalam; adakah kita menjadikan pesta ini sebagai ajang silaturahmi persaudaraan antar masyarakat? Ataukah kita telah menodai rasa rukun sesama tetangga hanya berbeda pilihan politik? Saling menghujat dan memanasi semangat kedaerahan karena membela kandidat yang ingin dimenangi? Dan sederet pertanyaan lainnya.

45 hari sebagai momentum perjalanan yang syahdu, dimana masyarakat sedang menyambut kelahirannya kembali, keluar dari kepompong masalah, menjadi warga yang percaya diri, bahu-membahu merekatkan sifat gotong royong. Pilkada menghapus jejak permusuhan, merebut harapan dan menyuntikkan optimisme masa depan yang lebih terang. Silaturahmi persaudaraan dalam suasana Pilkada menjadi ritual kerakyatan dimana melekat di dalamnya peneguhan pentingnya terus merawat “harapan”. Jangan sampai putus asa dan tak lagi percaya akan harapan pada pesta yang sekedar lima tahunan.

Di hari pencoblosan, selepas menunaikan kewajiban sebagai warga negara, kita datangi karib kerabat. Dengan wajah riang gembira saling memaafkan atas salah dan khilaf selama proses Pilkada. Bukan hanya menjumpai mereka yang senada pilihan politik, bahkan juga mendatangi tetangga dan kerabat kita yang berbeda pilihan dukungan agar kembali lagi menenun “persaudaraan” sesama masyarakat.

Hajatan Pilkada menjadi jembatan dimana solidaritas sosial kembali dikokohkan. Bahwa hidup tidak cukup berarti kalau hanya sekedar meraih prestasi personal, tapi justru kebermaknaan ini diletakkan pada kebersamaan, akan kehadiran orang lain. Dalam diksi “silaturahmi” tidak hanya ada kehendak “menyambungkan” persaudaraan, tapi juga diajukan pada haluan luhur jejak-jejak sakral Ilahiah; rahim Allah yang maha rahman dan rahim menjadi batu-bata relasi kemanusiaan kita. Bernapas dalam ke-jembaran rahmaniyah.

Dalam konteks keragaman hal ini penting direnungkan, justru ketika relasi sosial sering cerai berai gara-gara urusan iman politik, ideologi bahkan pendapat masa depan. Perbedaan pilihan nomor urut “jagoan” acap kali menjadi alasan kemanusiaan retak terhambur. Coba kita tengok, bagaimana saat ini nyaris media sosial hanya berisi caci narasi janji, maki-maki program para kandidat, saling mengumpat sosok pilihan, menebar benih fitnah, hoax dan informasi mubazir lainnya. Media sosial seakan-akan menjadi sebuah sayembara kaum “langkah peragu”, “riya’ atas pengabdian” dan tidak menawarkan rangkulan kaum “barisan penyejuk”.

Media sosial menemui anomali kontradiksinya yang paling primitif; menjadi media asosial. Sekarang tidak ada tawuran yang dilakukan dengan bahasa kasar kecuali di belantara media sosial. Tidak ada grup, dimana kebencian dipelintir sedemikian rupa kecuali di WAG atau Facebook. Pilihan keimanan politik dan pemahaman keagamaan serta ideologi nalar menjadi alasan seseorang dengan mudah menyematkan stigma sok pintar bahkan merasa sangat cerdas, “paling berpengalaman” dan “paham politik harapan”. Semuanya merasa hebat secara absolut, walaupun terkadang bisa jadi hanya bekingan atas nama “transaksi demokrasi”.

Kebersamaan ini yang dahulu dibilang Bung Karno sebagai gotong royong. Saya kutip penggalan pidato Bung Karno; “Gotong royong adalah paham yang dinamis, lebih dinamis dari kekeluargaan, saudara-saudara kekeluargaan adalah satu paham yang statis, tetapi gotong royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan. Gotong royong adalah membanting tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-membantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua”.

Akhirnya, selamat menyambut pesta rakyat ini dengan lapang keragaman. Mari tunjukan cara perjuangan melalui rongga-rongga keagaman. Jadikan Pilkada sebagai pesta kemanusiaan; yang tidak kehilangan “kembang api” persaudaraan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here